Pendahuluan – Pembangkit Listrik

Pembangkit listrik, tidak banyak orang yang paham mengenai area yang satu ini. Mungkin ketika saya menyebutkan kata ‘pembangkit listrik’ yang akan muncul di benak anda adalah ‘besar’, ‘berisik’, ‘bau asap’, ‘modal gede’ dan lain-lain dan sebagainya.

Memang pembangkit listrik itu selalu identik dengan area yang luas dengan bangunan-bangunan yang bentuknya rumit, cerobong asap yang tinggi menjulang, dan suara-suara mesin yang rasanya membuat pendengarnya pengen emosi aja.
Di indonesia, khususnya di luar pulau jawa, kalau listrik mati saja, perusahaan listrik negara atau yg kerennya disebut PLN selalu dihujat-hujat dan dimaki-maki. Ini bukan bermaksud membela PLN loh, tapi kalau saja lebih banyak pengusaha yang mau menginvestasikan duitnya di bisnis pembangkit ini, maka toko-toko teknik yang menjual genset rumahan itu tidak akan sekaya sekarang.
Mendengar kata pembangkit saja, pasti pengusaha pada ketakutan dulu karena impresinya selalu aja mahal. Mesin mahal, tenaga kerja mahal, pembebasan tanah mahal, ya boleh dibilang tidak ada yang murah di bisnis yang satu ini. Investasinya tidak boleh disamakan dengan membuka toko roti atau swalayan yang hanya membutuhkan puluhan atau ratusan juta rupiah. Investasi awal di pembangkit listrik pada umumnya minimal miliaran rupiah. Tekanan dan stress yang didapat dari bisnis ini juga jauh lebih gede dari bisnis biasa karena melibatkan banyak pihak, banyak duit, banyak waktu, pokoknya serba banyak deh. Cukup untuk menakutkan anda yang berencana memulai investasi di bidang ini.
Tapi kita patut bersyukur hidup di Indonesia yang tercinta ini. Pemerintah telah memberikan kesempatan kepada pihak swasta, kita-kita yang punya duit lebih untuk investasi, untuk membangun dan mengelola bisnis pembangkit listrik ini, yang mana di luar negeri dikelola sepenuhnya oleh pemerintahnya. Saya akan berkata jujur dan menegaskan kepada anda bisnis ini adalah TAMBANG UANG!! Sekali lagi TAMBANG UANG! Anda tidak percaya? Yuk, saya ajak anda melakukan sedikit perhitungan:
Sebagai pemilik sebuah pembangkit listrik, anda biasanya akan melakukan negosiasi awal dengan pihak PLN. Negosiasi awal akan mencakup apakah PLN yg akan menyediakan bahan bakar (apakah itu batu bara, gas, diesel, dll) atau anda sendiri yang akan menyediakannya. Mari kita ambil contoh jika PLN yg akan menyediakan bahan bakarnya.
Kita buat asumsi sebagai berikut:
– Anda memiliki Pembangkit Listrik tenaga uap dengan kapasitas 20 Mega Watt (termasuk kategori menengah)
– Anda tidak perlu pusing soal batubara karena sepenuhnya disuplai oleh pihak PLN
– Katakanlah PLN membeli dari anda per Kilowatt-Hournya (KWH) sebesar Rp 700,-. Terasa kecil sekali bukan 700 perak. Beli permen aja nggak cukup.
– PLTU anda beroperasi di wilayah defisit listrik sehingga PLTU anda bekerja dengan kapasitas maksimal 24/7. Mungkin dalam hati anda akan bertanya, yah kalo PLTUnya kerja maksimal terus, kalo ndak gimana? Saya akan bertanya balik pada anda, pernahkah anda mendengar wilayah di Indonesia yang memiliki surplus energi listrik sehingga pembangkit listriknya dihidupin seperlunya?
Nah sekarang mari kita mulai menghitung.
20 MegaWatt = 20.000 KiloWatt
1 Kilowatt-Hour = Rp 700
Maka, Setiap jam anda akan menghasilkan = 700 x 20.000
= Rp 14.000.000
Itu setiap jam loh.
Setiap hari anda akan menghasilkan = 14.000.000 x 24 jam
= Rp 336.000.000
Dan, setiap tahun anda akan menghasilkan = 336.000.000 x 365 hari
= Rp 122.640.000.000,-
Bagaimana menurut anda? Kebanyakan digitnya yah?tentu saja masih harus dipotong biaya Operational dan maintenance yang hanya terdiri dari upah-upah pegawai teknis dan non teknis yang rata-rata mencapai 30 – 50 orang.
Setelah melihat angka di atas, bagaimana menurut anda? Menggiurkan bukan? Ditambah lagi faktor-faktor berikut yang akan menambah motivasi anda untuk terkun ke bisnis pembangkit listrik ini:
1. Pemainnya masih terbilang sangat sedikit. Melalui riset dan pengalaman saya, pemain di bidang ini selalu dikuasai oleh orang yang itu-itu saja. Jadi anda mempunyai prospek yang cerah.
2. Luasnya prospek listrik di Indonesia. Luasnya areal Indonesia menjurus pada luasnya lahan untuk bisnis pembangkit listrik. Masih banyak wilayah-wilayah di Indonesia yang krisis listrik dan memerlukan pembangkit listrik. Termasuk dengan proyek 10,000MW.
3. Sudah tersedianya mesin-mesin dari China yang relatif lebih murah
4. Bahan bakar yang melimpah. Batu bara untuk PLTU ada, minyak solar untuk PLTD ada, gas untuk PLTG ada, angin untuk PLT Angin ada, air untuk PLTA ada, panas bumi untuk PLTP melimpah, apalagi sih yang kurang?
5. Perbankan sudah mulai aktif berperan dalam bidang pembiayaan bisnis pembangkit listrik untuk swasta. Sebut saja PLTA Asahan yg di Medan yang dibiayai salah satu Bank swasta dan PLTU Galang Batang Bintan yang dibiayai oleh sebuah bank pemerintah. Jadi jika anda berpikir kalau anda kekurangan dana, maka bank-bank akan siap menyokong anda, asalkan persiapan anda tepat dan terencana.
Faktor- faktor di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kelebihan-kelebihan yang dapat kita nikmati jika berinvestasi dalam bisnis pembangkit ini.

Ikuti terus blog ini, karena saya akan terus memberi informasi-informasi dalam hal pembangkit listrik, manajemen, operasi, undang-undang, dan masih banyak lagi.

Oh ya, saya juga akan mengingatkan anda kalau informasi yang saya bahas di sini nantinya akan lebih kepada garis besar masalah teknis daripada finansial. Iya toh, dalam bisnis pembangkit ini, masalah teknis patut anda dalami terlebih dahulu agar anda tidak banyak kehilangan dana yang terbuang percuma akibat dikibulin ama kontraktor-kontraktor anda. Makanya anda jangan sampai tidak mengikuti blog ini karena tentunya akan memperkaya wawasan dan membuka mata anda dalam bidang pembangkit listrik ini.

This entry was posted in Pembangkit Listrik - Introduction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s